Sahabat Terbaik bagi Diri
Senin, 31 Agustus 2009 | 10:43 WIB

Sebagian dari kita mungkin menghayati situasi hidup sangat sulit dan melemahkan semangat, seperti sakit serius, kehilangan pekerjaan, ditinggalkan pasangan, dilecehkan dan dianggap gagal oleh orangtua, atau menghadapi jalan buntu di dunia kerja. Menyesali diri

M (26) dibesarkan orangtua sarkastis yang membuatnya tumbuh menjadi individu minder, marah, dan selalu menyalahkan diri.

”Aku senang dengan kerjaku, tetapi ketika ingat kata-kata Mama, aku sekejap jadi malu dan rendah sekali. Terngiang-ngiang yang Mama bilang, aku palsu di depan orang lain. Saat aku cerita pekerjaan, Mama bilang, ’Sok tahu, cuma begitu saja sudah besar kepala’. Waktu aku ketemu laki- laki yang aku suka, Mama mencela, ’Siapa sih dia, jatuh cinta sama laki kayak begitu…’. Aku kasih uang ke Mama, kata dia, ’Cuma punya uang sedikit sok tahu’. Begitu aku sakit hati dan tidak berani kasih uang lagi, Mama ungkit-ungkit, ’Anak enggak tahu diri, cuma numpang, mau enak sendiri, enggak tau kesusahan orangtua’.

Aku serba salah, minder, mudah sekali tersinggung, bingung, tidak berani berbuat apa pun. Papaku tidak omong kasar ke aku, tetapi sangat kasar ke Mama dan sering mengancam memaksa minta uang. Jadi, aku juga merasa asing sekali dan sulit menghormati Papa.”

S (35) yang selama ini selalu tampil tegar di depan orang lain menulis, ”Mbak, suami saya kabur dengan perempuan lain. Sekarang saya tidak bisa konsentrasi kerja. Jadi ingat hidup saya penuh kegagalan. Sepanjang hidup saya terus menderita, dibeda- bedakan orangtua, dipaksa membantu ekonomi keluarga. Sekarang, saat butuh bantuan moril dan keuangan, keluarga tidak ada yang peduli, malah cuma menyalahkan. Saya malu sekali dianggap perempuan gagal. Jalan saya buntu, buat bayar kontrakan rumah saja masih utang, apalagi untuk sekolah anak….”

A (29) baru benar-benar menyadari suaminya hanya memanfaatkan kasih sayangnya. Ia menulis:

”Dear Mbak, aku sekarang lagi berat menghadapi dampak keputusan masa lalu yang telah aku lakukan. Aku kehilangan karier dan tabungan jerih payahku kerja bertahun-tahun hanya karena dia. Setelah dapat semua, dia meninggalkan aku dalam kesusahan dan porak poranda. Aku nelangsa. Habis semua.

Sekarang aku mulai semua dari nol lagi, capai sekali rasanya. Aku juga sendirian karena keluarga mempersalahkanku untuk kejadian ini. Tiap bangun pagi aku sadar aku enggak boleh bunuh diri, aku harus jalani hidup ini dengan penuh tanggung jawab, tetapi aku lelah menanggung semua beban ini. Kenapa aku masih hidup? Aku enggak sanggup lagi, Mbak. Aku pengen tidur, enggak bangun lagi…. Doa aku belum didengar, aku cuma mau tidur selamanya.”

Sahabat diri sendiri

Ketika diperlakukan buruk oleh orang lain, ditipu, terhambat mencapai tujuan, mengalami sakit serius, gagal, dipersalahkan untuk kejadian buruk yang dialami, sangat wajar kita menghayati rasa tidak terima dan marah, mungkin kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri. Sering kemarahan yang tidak dapat, tidak boleh, atau tidak ingin kita ekspresikan ke luar akan menjadi bentuk kemarahan yang kuat pada diri sendiri. Kita makin terpuruk ketika orang terdekat tidak memberi penguatan, tetapi malah menyalahkan, menghindar (setelah kita kehilangan harta benda), bahkan merendahkan.

Untuk yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat negatif seperti M, meski ada kebencian besar kepada orangtua, mungkin kuat pula kemarahan kepada diri (”ibuku benar, aku goblok dan jelek”, ”masak aku tidak dapat memaafkan orangtua sendiri?”, ”bahkan yang melahirkanku malu dengan kehadiranku”).

Mungkin kita melakukan kesalahan dan kebodohan, atau sedikit banyak punya andil terhadap yang terjadi. Baik bila kita mengakui itu dengan jujur, tetapi tidak ada gunanya terus menyalahkan diri.

Satu cara adalah dengan berpikir tentang ”sahabat terbaik”. Sahabat adalah orang yang sungguh peduli dan menyayangi sekaligus dapat berperan mengingatkan. Ia bisa jadi orangtua kita, guru, teman kerja, nenek, tante, sepupu, atau yang lain. Bersyukurlah yang punya sahabat nyata seperti itu.

Untuk yang merasa tidak memiliki, jangan putus harapan. Ajukan pertanyaan kepada diri sendiri, ”Seandainya aku memiliki sahabat yang sangat aku sayangi dan ia mengalami masalah sama dengan yang aku alami, aku akan bagaimana?” Pertanyaan ini biasanya akan membantu kita berpikir lebih jernih: peduli, ingin membantu, tidak menyalahkan, tetapi juga jujur dan berupaya menjadi penyeimbang.

Misalnya, ”Aku akan bilang kepada dia untuk tidak menyalahkan diri, menangis beberapa hari, setelah itu bangkit lagi. Aku akan mengingatkan sisi positif dirinya. Aku jujur bilang, menurutku orang yang dia cintai bukan orang baik yang perlu dipertahankan. Ditinggalkan mungkin terasa berat awalnya, tetapi bila terus bersama, malah akan lebih menderita untuk jangka panjang.”

Dalam sesi konseling saya kemudian bertanya lebih lanjut, ”Seandainya sahabat Mas bilang begitu, reaksi Mas bagaimana?” Ia menjawab, ”Orang lain tidak merasakan sakitnya. Tidak ada orang yang mengerti saya. Kalau tidak mengalami sendiri, pasti akan bilang begitu.” Saya desak lagi, ”Jadi, ada atau tidak kebenaran kata-katanya?” Ia terdiam lama, lalu menjawab, ”Ada. Memang kenyataannya harus begitu. Saya juga akan bilang begitu kepada orang yang saya sayangi. Dia harus mampu melewati kesulitannya.”

Bila Anda terus didera kemarahan, kesedihan, terganggu fungsi hidup sehari-hari, atau banyak berpikir bunuh diri, Anda butuh bantuan profesional. Bagaimanapun, masalah sesulit apa pun semoga dapat ditemukan jalan keluarnya bila kita dapat menjadi sahabat terbaik bagi diri sendiri. Tetap menyayangi diri meski salah atau tak sempurna menjadi prasyarat kebahagiaan. Kesalahan biarlah menjadi pembelajaran agar kita lebih bijaksana menata masa depan.

Kristi Poerwandari, Psikolog