detikcom – Rabu, Oktober 7

Nilai tukar rupiah terus bergerak menguat dan kini bertahan di level 9.400-an per dolar AS. Namun profit taking diprediksi akan menghadang laju pengautan rupiah hari ini.

Pada perdagangan Rabu (7/10/2009), rupiah dibuka menguat lagi ke 9.420 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.440 per dolar AS.

Rupiah sejak dua pekan terakhir memang bergerak sangat signifikan. Aliran modal asing ke emerging market memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS membuat rupiah semakin perkasa. Dan penguatan rupiah terjadi sama sekali tanpa campur tangan BI.

Sementara dolar AS di pasar global semakin terpuruk setelah keluarnya laporan negara-negara Teluk akan melepas penggunaan dolar AS dalam transaksi minyaknya.

Euro mengaut ke 1,4715 dolar, dibandingkan sebelumnya di level 1,4648 dolar. Dolar AS juga melemah atas yen ke posisi 88,82 yen, dibandingkan sebelumnya di 89,51 yen.

“Pada akhirnya pergerakan perdagangan minyak dengan menggunakan mata uang yang lebih bervariasi memungkinkan. Namun dalam pandangan kami, laporan The Independent itu membuat hal tersebut lebih jauh untuk terjadi daripada yang seharusnya,” ujar analis Barclays Capital, Adarsh Sinha seperti dikutip dari AFP.

Harian Inggris ‘The Independent ‘ yang mengutip sebuah sumber menyatakan, negara-negara Arab kini sedang melakukan pembicaraan serius dengan Rusia, China, Jepang dan Prancis untuk mengantikan dolar AS dengan kumpulan mata uang dan emas untuk perdagangan minyak dalam 9 tahun ke depan.

The Independent dalam headline -nya menuliskan sebuah laporan khusus dengan judul “Matinya dolar”. Dalam laporan tersebut dituliskan, negara-negara Arab akan menggunakan ‘basket of currencies ‘ yang berisi kombinasi mata uang yuan, euro, emas dan beberapa mata uang lain untuk melakukan transaksi minyak.

ayo rupiahku bertahanlah..