Minggu, 22 November 2009 | 07:06 WIB
KOMPAS.com — Tidak semua orang bersedia membuka pintu rumahnya untuk orang lain ketika ia hidup berumah tangga. Perasaan tidak aman, ruang privasi berkurang, atau takut bertanggung jawab bila terjadi sesuatu pada anak yang hidup menumpang sering menjadi alasan penolakan tersebut.

Bagi Sumarni Pinuji Lestari (54), tinggal bersama orang lain yang bukan anak kandung sendiri justru memperkaya batinnya. ”Saya menjadi lebih sabar dan penyayang,” kata Tari, sapaan akrab Sumarni. Di rumah warisan orangtuanya di Ngadinegaran, Yogyakarta, Tari menampung tiga keponakannya.

Dua di antara keponakannya, Pundra (16) dan Noval (11), ikut dengan Tari setelah ayah mereka meninggal dunia, sementara sang ibu masih tinggal di Lampung. Di Yogya, Pundra meneruskan sekolah di kelas I SMA, sedangkan Noval masuk kelas VI SD.

Tari mencoba berperan sebagai ibu pengganti meskipun sebelumnya dia jarang sekali bertemu dengan dua keponakannya itu. Selesai berjualan jus di Kampus Universitas Gadjah Mada sekitar pukul 16.00, ia menyempatkan diri menemani Pundra dan Noval belajar di rumah.

Tari juga mendidik anak-anak adiknya hidup mandiri. Mereka berbagi tugas membersihkan rumah, mencuci baju sendiri, dan mencuci piring selesai makan. ”Kebetulan di rumah mereka juga sudah diajarkan membereskan urusan rumah oleh ibunya. Jadi, saya tidak perlu terlalu susah mengatur mereka,” kata Tari.

Untuk membiayai ketiga keponakannya, Tari mengandalkan uang hasil berjualan jus dan uang pembayaran indekos. Kebetulan keluarga Tari membuka bisnis rumah indekos bersama-sama.

Kakak Tari yang lain juga ikut membantu membiayai keperluan ketiga keponakannya itu. Untuk biaya sekolah, Tari juga dibantu kakak-kakaknya yang lain.

Menurut Seto sebagai psikolog, ngenger bisa menempa mental orang menjadi lebih kuat dan tidak mudah menyerah, tetapi hal itu bergantung pada pendidikan dasar yang diperoleh dari orangtua.

”Bila sejak dini orangtua selalu mendorong dan memotivasi, anak akan tumbuh dewasa dengan rasa percaya diri tinggi. Apa pun kondisinya,” kata Seto.

Kepada anak-anaknya yang lahir dalam kehidupan yang sudah mapan, Seto mengajar mereka agar tidak hidup dengan mengandalkan harta orangtua. Seto juga melibatkan ketiga anaknya dalam kegiatan yang bersifat amal. ”Untuk mengingatkan anak-anak agar mereka bersyukur dengan apa yang mereka punya,” tutur Seto. (IND)

Editor: jimbon