Minggu, 22 Agustus 2010 | 01:36 WIB
LONDON, KOMPAS.com–Duta Besar RI untuk Yunani, Ahmad Rusdi, melepas tiga peserta Darmasiswa dari Yunani yang dengan antusias ingin belajar Budaya Indonesia.
Acara pelepasan berlangsung dalam acara santap malam bersama di Wisma Duta Athena, ujar Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Athena, Jani Sasanti, dalam keterangan persnya yang diterima Antara, London, Sabtu.

Santap malam ini yang sekaligus sebagai sarana pengenalan budaya Indonesia melalui nuansa Wisata Duta yang ditata dengan barang kerajinan dari Indonesia, seperti ukiran Bali dan Jepara, alat musik Gamelan, hiasan dinding dan lukisan Indonesia, kain batik dan tenun.
Selain itu, juga tersedia suguhan makanan dan kue-kue khas Indonesia seperti gemblong, bubur kacang hijau, ketan hitam, dan es teler.

Jani Sasanti mengatakan, antusiasme tinggi para peserta telah terlihat sejak mereka mendapatkan informasi diterima sebagai penerima beasiswa Darmasiswa oleh Pemerintah Indonesia melalui Kemdiknas RI.

Animo ini semakin meninggi menjelang keberangkatan, yang ditunjukkan dengan diajukannya berbagai pertanyaan mengenai Indonesia secara rinci kepada Duta Besar dan para staf KBRI yang hadir dalam acara jamuan makan malam tersebut.

Pada tahun ini, tiga orang peserta Darmasiswa dari Yunani diterima di dua perguruan tinggi di Bali. Satu peserta diterima di jurusan Bahasa Indonesia pada Universitas Udayana, sedangkan dua peserta lainnya diterima di jurusan Seni Kriya, ISI Denpasar.

Dubes Ahmad Rusdi dalam sambutannya menyampaikan, agar para peserta dapat mempergunakan kesempatan belajar yang telah diberikan Pemerintah Indonesia untuk mempelajari bahasa dan keanekaragaman budaya Indonesia dengan sebaik-baiknya.

Diharapkan, para peserta dapat membantu program promosi seni budaya dan bahasa Indonesia kepada masyarakat Yunani sekembalinya mereka dari Indonesia.

Dubes juga menambahkan, jumlah peserta Darmasiswa dari Yunani selama ini masih terbatas, namun ia terus berupaya agar jumlah peserta Darmasiswa dari Yunani di tahun-tahun mendatang terus bertambah.
Dubes menekankan kepada peserta, meskipun Yunani terkenal dengan peradaban dunia seperti peninggalan arkeologi, terbentuknya sistem demokrasi, tempat lahirnya filosof, dan ilmu-ilmu lainnya.
Keberadaan para tokoh pemikir terkenal seperti Hermes, Apollo, Aristoteles, Plato, Socrates, dan Pitagoras, namun warga Yunani juga dapat mempelajari lebih dekat Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan beragam suku bangsa, budaya, dan bahasa serta terdiri dari masyarakat yang majemuk.
Salah satu peserta Loukaki Panagiota menyampaikan rekan kerja dan teman-temannya merasa iri dengan kesempatan beasiswa yang didapatnya, sehingga terdapat keinginan kuat mereka untuk dapat juga mengikuti program Darmasiswa di tahun depan.

Pembicaraan semakin menghangat ketika menyentuh topik harapan para peserta selama belajar di Indonesia. Panagiota berkeinginan untuk segera menguasai bahasa Indonesia sehingga dapat menunjang cita-citanya menjadi penerjemah resmi bahasa Indonesia-Yunani.
Sedangkan peserta Darmasiswa lainnya yaitu Pandria Maria dan Tassa Paraskevi menyatakan kesungguhannya untuk dapat mempelajari seni pembuatan patung dan wayang kulit selama keberadaan mereka di Bali.

“Non-gelar”

Darmasiswa adalah program beasiswa “non-gelar” yang diberikan Pemerintah RI kepada pelajar dari negara sahabat untuk mempelajari budaya dan bahasa Indonesia dikoordinir Kementerian Pendidikan Nasional bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI.
Program Dharmasiswa untuk mahasiswa asing yang belajar di berbagai Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia untuk tahun ajaran 2010-2011 ini, Pemerintah Indonesia memberikan beasiswa Darmasiswa kepada 750 peserta dari 67 negara untuk belajar di 45 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, termasuk tiga gadis dari Yunani.

Ucapan “Terima Kasih dan Selamat Malam” yang diucapkan secara terpatah-patah oleh para peserta menandai berakhirnya acara pelepasan ini.