JAKARTA, KOMPAS.com — Kualitas air tanah di daerah Jakarta dan sekitarnya semakin buruk. Padahal, sampai saat ini sebagian besar rumah tangga di Jabodetabek masih mengandalkan air tanah di samping air yang berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagai sumber air bersih maupun air minum.

Menurut data tahun 2008, cakupan pelayanan air minum di Indonesia baru 29 persen dan sisanya bergantung pada sumber air minum dari air permukaan, air sumur, air sungai, serta air hujan yang tidak terlindungi. Sebagian besar air yang dikonsumsi masyarakat juga tercemar oleh koli tinja.

Air minum yang berkualitas dan layak minum harus dapat diterima secara estetis, jernih, tidak berasa dan tidak berbau, tidak mengandung partikel terlarut, serta tidak mengundang kuman dan logam berat yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan.

Berdasarkan sampel tahun 2008, 100 persen sampel air bersih di DKI Jakarta, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, terkontaminasi bakteri coliform dan koli tinja. Bila masuk ke dalam tubuh manusia, bisa lewat air minum atau makanan, bisa menyebabkan diare.

Ketiadaan bakteri Escherichia coli merupakan salah satu indikator mutu dan keamanan air minum. “Bakteri ini habitat alaminya adalah pada usus manusia. Jika tidak ada bakteri ini diharapkan menjadi indikasi tidak adanya patogen lain,” kata Dr Ratih Dewanti-Hariyadi, pakar mikrobiologi pangan dari Fakultas Teknologi Pertanian IPB, dalam media edukasi mengenai kualitas air minum di Jakarta, Kamis (2/9/2010).

Tercemarnya sumber air minum oleh kuman dan cemaran lain tentu membahayakan kesehatan masyarakat. “Hampir 50 persen penyakit yang diderita masyarakat masih disebabkan oleh air minum yang tercemar dan pola hidup tidak bersih,” kata Dr Budi Haryanto, MsC, pakar kesehatan lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dalam kesempatan yang sama.

Kejadian luar biasa diare yang dilaporkan di 16 provinsi pada tahun 2006 oleh World Bank ternyata juga disebabkan oleh air minum yang tercemar bakteri E-coli yang berasal dari tinja manusia dan hewan. Diare yang disebabkan oleh virus dan protozoa juga berasal dari air yang tercemar tinja.

Kondisi air minum di beberapa derah lain ternyata sama saja. Penelitian yang dilakukan tahun 2004 menunjukkan, 21 persen depot air minum isi ulang di Kota Palembang positif tercemar coliform.

Kondisi air minum di Kota Bandung juga tak jauh berbeda. Di beberapa titik cekungan di kota itu, seperti di daerah Antapani, Ujung Berung Utara, Sadang Serang, memiliki kandungan Fe (besi) 3-10 kali ambang batas. “Normalnya kandungan Fe dalam air adalah 1-3 mg/l,” kata Budi.

Kualitas sumber air bersih, kata Ratih, antara lain ditentukan oleh keadaan lingkungan, misalnya, jarak sumber air bersih dari kakus yang minimal adalah 10 meter. Air tanah yang berada di daerah dekat lokasi industri, pertanian atau penambangan juga rawan tercemar oleh senyawa kimia dan pestisida.