SEMARANG, KOMPAS.com — “Ibu, saya malu masuk kelas,” kata Putri Noor Khasanah (9), siswa kelas III SD Juara, kepada Heni, ibunya. “Enggak apa-apa, temannya kan banyak. Pak guru dan bu gurunya juga baik, kan?” kata Heni. Dialog itu terus berlanjut, sementara teman-temannya sudah mulai masuk kelas.

Putri merupakan salah satu siswa SD Juara yang langsung masuk kelas III. Dia pindahan dari sebuah SD Negeri di kawasan Mrican, Semarang. Sebagai anak baru, ia tak sendirian merasa malu. Banyak teman lainnya yang juga tak mau masuk kelas karena belum mempunyai teman akrab.

“Assalamualaikum!” kata seorang badut yang sengaja disiapkan pihak sekolah. “Waalaikumsalam,” sahut anak-anak riuh. Keriuhan itu memancing Putri menengok dalam ruangan. Sementara dua badut yang asyik mendongeng ternyata menimbulkan ketakutan pada Salman Faturahman, adik sepupu Putri. Ia menangis dan meronta. “Adik tidak usah menangis. Ayo kakak temani,” kata Putri kepada Salman.

Begitulah suasana hari pertama masuk sekolah di SD Juara, sekolah inklusif gratis binaan Rumah Zakat Indonesia cabang Semarang. Meski suasana sedikit gaduh, intervensi guru untuk menyelesaikan masalah tidaklah dominan.

“Guru lebih banyak berfungsi sebagai katalisator saja. Mengondisikan situasi siswa agar mampu mencari jalan keluar terhadap permasalahannya sendiri,” kata Joko Kristiyanto, Kepala SD Juara.

Putri meruapakan salah satu siswa pindahan dari sekolah negeri. Menurut ibunya, meski SD Negeri juga gratis, tetapi sering juga ada iuran. Itulah yang menyebabkan Putri dipindah ke sekolah yang juga gratis ini.

“Belum lagi harus beli buku, alat tulis, seragam, dan lain-lain,” kata Heni.

Putri hanyalah salah satu contoh, betapa pendidikan ternyata tak hanya butuh pembebasan SPP. Lebih dari itu, para orangtua membutuhkan sikap sportif dari penyelenggara pendidikan untuk tidak menarik iuran di luar ketentuan.

“Kalau di kota seperti Semarang biasa. Ada yang alasan untuk les, untuk beli ini dan itu. Makanya saya pindah ke sini, jadi enggak perlu beli seragam, buku, atau apa pun,” kata Heni.

http://edukasi.kompas.com/read/2011/07/11/11495810/Ibu.Aku.Malu.Masuk.Kelas