Para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Senin-Kamis di Notoyudan, Kecamatan Ngampilan, Yogyakarta, ini boleh dibilang ‘bukan santri biasa’. Sebab, ponpes tersebut memang khusus untuk kaum waria. Selain menerima santri-santri waria, ponpes yang sehari-hari dipimpin Ibu Maryani (48 tahun), tersebut juga menampung kaum gay dan lesbi.

Ditemui di ponpes sekaligus salon kecantikan dan rias pengantin ‘Ariyani’ ini, Jumat (14/11) siang, Maryani menjelaskan, sejak didirikan 8 Juli 2008 lalu, rata-rata ada 10-25 orang yang nyantri di sana, datang dari Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Dari jumlah itu, tercatat ada tiga perempuan lesbian dan empat pria gay yang ikut nyantri.

“Setahu saya, pondok pesantren khusus waria yang ada di Indonesia ya baru pesantren kami ini. Memang khusus waria tapi juga menerima kaum lesbi dan gay. Sebab, menurut saya, seperti halnya waria, lesbi itu perempuan tapi berjiwa laki-laki sedangkan gay itu laki-laki berjiwa perempuan,” kata Maryani, yang mengenakan pakaian muslim warna hitam dipadu jilbab warna senada.

Salah satu gay yang menjadi santri di sana adalah pemilik Hotel Islam yang berlokasi di Jalan Maliboro, Jogjakarta. “Panggilannya Mak Ukik,” ungkap Maryani seraya menambahkan bahwa keberadaan Mak Ukik sebagai gay sudah diketahui banyak orang dan tak dipersoalkan keluarga.

Menurut Maryani, semua santrinya –termasuk yang gay dan lesbian– sekarang nyantri hanya pada hari Minggu petang sampai Senin malam. Hal ini menyesuaikan dengan kesibukan dan keinginan para santri ponpes di Notoyudan GT II/1294 RT 85 RW 24 tersebut.

“Dulu, kegiatan pesantren dilakukan setiap Senin dan Kamis, karena itulah pesantren ini dinamakan Senin-Kamis. Alasan pemilihan nama Senin-Kamis juga karena hari Senin dan Kamis itu biasanya digunakan oleh orang Jawa untuk bertirakat atau beribadat, misalnya puasa,” jelasnya.

Karena sekarang kegiatan ponpes hanya berlangsung mulai hari Minggu petang sampai Senin malam, maka selain dua hari itu ponpes tersebut relatif sepi. Tak ada aktivitas apa-apa, seperti saat Surya dua kali datang ke sana, Jumat (14/11) pagi dan siang. “Kalau ada pelanggan salon datang, baru ramai. Biasanya salon saya ramai kalau pas musim pengantin,” papar Maryani.

Adapun para santri di Ponpes Senin-Kamis dibimbing oleh 25 ustadz yang datang dari berbagai tempat di Jogjakarta, antara lain Ustdaz Heri Banaran, Ustadz Heri Gunungkidul, dan Ustadz Andi. Mereka datang ke sana atas perintah KH Hamrolie Harun, pendiri dan pengasuh utama Pengajian Mujahadah Al Falah Yogyakarta.

Nama terakhir itu memang berperan besar di Ponpes Senin-Kamis. Menurut Maryani, inspirasi untuk mendirikan ponpes khusus waria bermula dari kegiatannya mengikuti pengajian di tempat KH Hamrolie Harun saat masih berlokasi di kawasan Pathuk, Yogyakarta, sekitar 10 tahun lalu.

“Waktu itu yang hadir biasanya sekitar 100 jamaah. Dari jumlah itu, hanya saya yang waria, atau jamaah waria tunggal. Saya senang karena saya diterima di pengajian itu. Para jamaah tak mempersoalkan meski saya waria,” kenang waria yang hanya lulusan SD tapi cara berbicaranya tidak kalah dengan orang berpendidikan tinggi.

Beberapa saat setelah aktif mengikuti pengajian KH Hamrolie Harun, Maryani –yang kala itu masih tinggal di Kampung Surakarsan– berinisiatif menggelar pengajian di rumahnya. Pengajian umum, bukan khusus waria. Rata-rata jamaah umum yang hadir 50 orang. Sedangkan waria yang ikut datang hanya satu-dua orang.

Pengajian setiap malam Rabu Pon ini berlangsung lancar. Sampai kemudian, saat terjadi gempa di Jogjakarta dan sekitarnya, 27 Mei 2006, Maryani yang sudah bermukim di Noyoyudan tergerak untuk mengundang para waria dari berbagai kota –antara lain Surabaya, Semarang, Solo, Madiun dan Ponorogo– untuk diajak doa bersama. Saat itu hadir sekitar 30 waria.

“Setelah doa bersama di tempat saya, saya mengajak mereka mendatangi beberapa waria yang menjadi korban gempa, dan memberikan bantuan semampu kami,” kata Maryani.

Sesudah itu, waria yang pernah menjadi ketua Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo) –organisasi ini sekarang tidak aktif– tersebut menyelenggarakan pengajian khusus waria, juga pada setiap hari malam Rabu Pon. Waria yang datang rata-rata antara 15-20 orang. Mereka berasal dari berbagi kalangan dan profesi, seperti pekerja salon, pengamen dan ‘pekerja malam’.

Mengetahui minat kaumnya ikut pengajian cukup tinggi, Maryani kemudian mendatangi KH Hamrolie Harun, menyatakan hendak mendirikan sebuah ponpes khusus waria sekaligus minta bantuan sang kiai. Gayung bersambut, KH Hamrolie Harun bersedia memberi bantuan dalam bentuk mengirim para ustadz alias pengajar, yang berjumlah 25 orang.

“Beliau memang punya perhatian besar, dan kadang-kadang juga hadir ke sini saat ponpes ada kegiatan. Tidak rutin. Mereka yang rutin datang ya 25 ustadz yang dikirim KH Hamrolie Harun, bergantian sesuai jadwal masing-masing,” paparnya.

Rincian kegiatan

Apa saja materi kegiatan yang diikuti oleh para santri waria di ponpes tersebut? Maryani menjelaskan, kegiatan ponpes dimulai pada Minggu pukul 17.30 WIB dengan salat magrib. Setelah itu, sepanjang Minggu sampai Senin subuh, mereka menjalani berbagai kegiatan seperti zikir kesehatan dan zikir ekonomi, membaca Salawat Nariyah 100 kali, salat tahajud, dan makan sahur. Kegiatan ini dipungkasi dengan olahraga pada Senin pukul 05.00 WIB.

Kemudian, kegiatan Senin diawali pada pukul 08.00 WIB dengan salat Dhuha delapan rekaat, dua rekaat salam. Rangkaian aktitivas yang dilakukan pada Senin, antara lain, belajar membaca Alquran dan belajar salat (bagi yang belum bisa), membaca tasbih 500 kali, dan berbuka puasa. Kegiatan Senin dipungkasi pada pukul 19.30 WIB, saat para santri pulang ke tempat masing-masing.

“Para santri tidak harus mengikuti kegiatan secara penuh. Boleh mengambil sebagian kegiatan sesuai kemampuan masing-masing,” jelas Maryani.

Berapa biaya setiap waria yang nyantri di ponpes itu? Menurut Maryani, mereka tak dipungut bayaran, alias gratis. Mereka biasanya datang hanya membawa pakain dan peralatan untuk mandi dan berhias, sedangkan sarung dan mukena sudah tersedia di ponpes.

“Saya sediakan sarung dan mukena, biar mereka memilih sendiri mau pakai yang mana, yang mereka anggap nyaman. Saya sendiri biasa memakai mukena karena saya sudah merasa menjadi perempuan,” tegas waria yang memiliki anak perempuan hasil adposi berusia delapan tahun bernama Rizki Ariyani tersebut.

Ditanya mengenai biaya yang dia keluarkan untuk mengelola ponpes waria tersebut, Maryani menolak menyebutkan. Alasannya, dia merasa ikhlas sehingga tak perlu merinci dana yang sudah dikeluarkan maupun memperkirakan dana yang akan dikeluarkan.

“Hampir semua menggunakan uang pribadi saya. Kalau ada orang yang membantu, saya terima. Tapi saya tidak pernah meminta-minta bantuan ke donatur-donatur, karena tidak mau dituduh mendirikan pesantren hanya untuk kedok mencari uang,” tandas Maryani.

Dia bersyukur, masih ada orang-orang yang peduli kepada kaum waria. Misalnya, para ustadz yang bersedia mengajar para santri waria dengan tanpa dipungut bayaran, bahkan kadang-kadang malah memberi bantuan. “Pada saat bulan puasa yang lalu, misalnya, ada ustadz yang membantu makanan atau makanan kecil,” kenangnya.
Maryani juga bersyukur karena keberadaan ponpesnya diterima oleh masyarakat setempat, termasuk pihak takmir masjid. “Pak Dulmajid, takmir masjid di kampung ini, juga mendukung ponpes kami,” kata Maryani.

Keluar Malam

Sebagai seorang waria senior, Maryani memiliki pengalaman hidup dan pekerjaan yang panjang. Termasuk, keluar malam alias mencari pelanggan para laki-laki hidung belang, mulai dari Yogyakarta, Semarang, Surabaya (kawasan Jalan Ketabang), Solo (kawasan Lapangan Manahan), hingga ke Jakarta (Taman Lawang). Dia juga pernah menjadi pengamen.

Pengalamannya itu menunjukkan bahwa waria perlu mencari makan sekaligus harus bekerja. Karena itulah dia bisa menoleransi bila waria yang menjadi santri di ponpesnya ternyata belum dapat meninggalkan kebiasaan buruk seperti keluar malam.
“Biar saja jika mereka sudah beribadat, dan ikut menjadi santri di sini, tapi masih juga keluar malam. Kalau saatnya tiba, dan karena dibimbing Allah, mereka pasti akan memutuskan tak keluar malam lagi,” tegasnya.

Maryani juga tak peduli bila ada orang yang menganggap bahwa dirinya –maupun para waria di ponpes– sebenarnya belum bertobat total karena masih memilih berjenis kelamin waria, bukan memilih menjadi laki-laki. Menurutnya, pilihan ini bukan urusan orang lain melainkan urusannya dengan Allah Sang Pencipta.

“Waria itu juga manusia. Waria juga perlu beribadat. Waria yang sudah tua seperti saya, sulit untuk kembali menjadi laki-laki. Tapi waria-waria yang masih kecil, yang masih muda-muda, bisa saja bertobat total dengan menjadi laki-laki lagi. Kalau memang ada santri di sini mau kembali menjadi laki-laki karena pintu tobatnya dibuka oleh Tuhan, monggo

Tetapi, tambah Maryani, jika memang ada santri waria yang kembali menjadi laki-laki, dia mengingatkan agar santri tersebut tidak lagi bersikap dan bertindak sebagai waria. “Saya minta dia tidak lagi berdandan seperti perempuan, dan tidak keluar malam,” tandas Maryani.

Selain aktif mengelola ponpes dan salon miliknya, Maryani kadang-kadang juga diundang ke berbagai acara yang berkaitan dengan masalah waria. Jumat (14/11) siang kemarin, misalnya, setelah diwawancara Surya, dia diundang Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jogjakarta, membahas tentang peran banci yang marak di tayangan televisi swasta. Secara pribadi dia menilai, peran banci itu sebenarnya juga melecahkan kaum waria.

Lalu, apa yang masih menjadi obsesi Maryani? “Saya ingin agar di kota-kota lain juga muncul pondok pesantren khusus waria seperti di tempat saya ini. Kalau perlu di seluruh kota di Indonesia. Supaya orang-orang tahu bahwa kaum waria juga beribadat. Waria juga manusia, juga perlu ibadat,” tegasnya. (Junianto Setyadi) saja,” paparnya.

http://www.forumkami.net/cafe/18701-pesantren-khusus-banci-kaum-homo.html