Akhirnya Kang Wim meminta maaf kepada seluruh warga disela-sela acara kerja bakti di kampung Akasia kemarin. Kang Wimnarno yang akrab dipanggil “Kang Wim”, itu anak dari Pakde Rijgeger yang rumahnya paling kaya sekelurahan. Kang Wim diminta sama Pak RT untuk melatih tim sepak bola karang taruna. Pak RT namanya Pak Togar Abidin. Pak Togar jadi RT belum lama, menggantikan Pak Udin Sembelid. Maklum selama jadi RT, Pak Udin tidak mencerminkan sebagai pemimpin yang baik. Pernah dipenjara gara-gara ketauan “nyunat” dana bantuan dari pemerintah. Maka dari itu Pak Togar dipilih supaya bisa memperbaiki kualitas masyarakat.

Tim sepak bola karang taruna di kampung Akasia punya banyak pemain berbakat. Di tim sepak bola itu ada Kristian Gondes yang jadi penyerang. Gondes itu artinya “Gondrong Deso”, maklum dia punya rambut gondrong mirip penyanyi grup band Melayu dari Malaysia. Ada juga Dadang Pramungkasan, yang biasa dipanggil Dapra. Ada Firzan Umana yang pernah jadi pemain terbaik karena memang Firzan sangat sopan kepada siapapun. Pemain yang lainnya Ahmadi Bustom, M Ilmam, M Rizwan, M Nasuhadi, H Hapsah, M Robin, Zulki S, Markushadi, Oktamania, Ekaramlan, Hariadi, Totonsuciptono, Beno W, Suparlan, dan yang paling ngetop adalah I Bahdiman dan Boa Salosalo.

Kesalahpahaman bermula waktu kemarin tim karang taruna bertanding lawan kampungnya Mbah Rain, yang letaknya 2 km dari kampung Akasia. Waktu itu Kang Wim coba menerapkan permainan dengan tempo lambat, maklum para pemuda juga berprofesi sebagai wirausaha dan petani. Jadi untuk mensiasati kelelahan stamina, Kang Wim coba dengan strategi bermain lambat tapi efektif. Rencana Kang Wim gagal, di babak pertama tim karang taruna malah kalah 0-1. Pas istirahat Kang Wim marah ke semua pemain. Kata Kang Wim: “Koe iki piye to Cah…!!! iso bal-balan opo ora to…!!!! pantesan wae makanan mu gur sego kucing karo telo..!!! mbokk… sekali-sekali makan pizza opo keju, gen pinter koyo wong londo..!!! (artinya: kamu ini gimana sih nak..!!!! bisa main bola apa tidak sih…!!! pantas saja makananmu cuma nasi kucing sama ubi..!!! coba sekali-sekali makan pizza atau keju, biar pintar seperti orang barat)”.

Mendengar kata-kata Kang Wim itu, semua pemuda jadi sakit hati. Akhirnya di babak kedua semua pemuda jadi main ogah-ogahan. Si Gondes jadi sering bengong. Si Dadang jadi males ngejar bola. Si Firzan dan Ahmadi Bustom pulang. Si Beno, Robin, Hapsah dan Nasuhadi jadi gak konsentrasi di lini pertahanan. Si Boa Salosalo jadi tidak bermain seperti Boas Salossa di timnas Indonesia, padahal biasanya dia bermain mirip Boas Salossa yang lincah, pintar dan enerjik. Malahan gawang Markushadi harus kebobolan untuk kedua kalinya. Ditambah lagi dengan nyangkutnya bola ke atas pohon beringin. Pertandingan jadi harus berhenti 5 menit karena nunggu Pak RT manjat pohon untuk ngambil bola yang “temangsang” di pohon.

Selama 5 menit istirahat itu, para pemuda terlihat berkumpul ditengah lapangan sambil membicarakan sesuatu. Dapra bilang: “Cah, Kang Wim kok koyo ngono yo? Opo awake dewe iki tenaga kerja rodi Cungpret po..!! (artinya: teman, kok Kang Wim seperti itu ya? Memangnya kita ini tenaga kerja rodi Cungpret (Cungpret: Kacung Kampret)..!!”. Boa Salosalo bilang: “Yowis.. kondo karo Pak RT wae, gen Pak RT sing ngomong karo Kang Wim. (artinya: Ya sudah.. bilang sama Pak RT saja, biar Pak RT yang bicara sama Kang Wim)”. Firzan Umana bilang: “Iyo bener, isih becik Kang Albret Kendel yo.. Piye nek Kang Albert Kendel wae sing nglatih awae dewe??? (artinya: iya bener, masih lebih baik Kang Albert Kendel ya, bagaimana kalo Kang Albert Kendel saja yang nglatih kita??)”. Boa Salosalo bilang: “Wahh…ojo Kang Albert, mengko aku ora entuk main neh piye jal?? Kang Rahmad Darmaji wae..(artinya: waahh.. jangan Kang Albert, nanti kalo saya tidak boleh main lagi bagaimana hayoo? Pelatihnya Kang Rahmad Darmaji saja)”. Kristian Gondes bilang: “Boa, kowe kui ora entuk main mergone koe ora teko latihan. Mulakno nek latihan kui teko, ojo turu wae.. (artinya: Boa, kamu itu tidak boleh main karena tidak datang latihan. Makanya kalo latihan datang, jangan tidur saja)”.

Setelah bola dapat diambil Pak RT, akhirnya pertandingan dapat dilangsungkan kembali. Tapi apalah daya, tim karang taruna ternyata kalah dengan skor 2-0. Tapi walaupun kalah, tidak ada penonton yang pulang duluan. Karena “wong deso kui isih tepo seliro ketimbang wong kuto, (artinya: orang desa itu lebih menghargai daripada orang kota)”. Keesokan harinya Si Firzan sms ke pak RT kalo banyak temen-temen yang sakit hati gara-gara omongan Kang Wim. Firzan nulis: “Pak RT, nyuwun ngapunten. Niki rencang-rencang sakit hati kaleh omongane Kang Wim. Saget mboten nek Kang Wim diganti mawon kaleh Kang Albert Kendel (artinya: Pak RT mohon maaf. Ini teman-teman sakit hati karena pembicaraan Kang Wim. Bisa tidak Kang Wim diganti saja sama Kang Albert Kendel.)”. Sebelum Kang Wim melatih, ada Kang Albert Kendel yang melatih tim karang taruna. Sebenarnya namanya hanya Albert, tapi pemuda menjulukinya Albert Kendel. “Kendel” itu artinya berani. Maklum Kang Albert terkenal sebagai sosok yang pendiam tapi berani mengambil resiko. Bahkan Dapra bilang kalo Kang Albert itu mirip “Kulkas Dua Pintu” yang sangat dingin.

Setelah membaca sms dari Firzan, Pak RT akhirnya negur Kang Wim. Dan pada kerja bakti kemarin, Kang Wim minta maaf kepada semua pemuda. Kang Wim bilang: “maaf yo Cah, ndek wingi aku emosi (artinya: maaf ya anak-anak, kemarin saya emosi)”. Dengan kata maaf itu hubungan mereka menjadi baik kembali dan tim karang taruna siap untuk bertanding lagi. Pak RT juga bilang ke pemuda: “Maaf Cah, Kang Albert Kendel sak iki agek sibuk ngurusi ternak lele karo usaha endok pitik dadi ora iso nglatih meneh (artinya: maaf anak-anak, Kang Albert Kendel sekarang lagi sibuk ngurusin usaha ternak ikan Lele dan usaha telor ayam jadi tidak bisa nglatih lagi)”. Pertandingan bulan depan melawan tim dari Kampung Qodar. Semoga saja tim sepak bola karang taruna Akasia bisa memberikan hasil terbaik. (bersambung………..).

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10479220