KELUARGA selalu menjadi kunci utama bagi tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak. Budaya dan kebiasaan dalam keluarga juga tentu membawa pengaruh banyak.

 Cara mendidik anak pria dan wanita dalam keluarga juga sangat berpengaruh. Jika terlalu banyak anak pria atau wanita dalam satu keluarga, hal itu juga akan menentukan sifat anak tersebut.

“Kita lihat saat ini merebak kasus kejahatan seksual, itu penyakit sosial bukan bawaan lahir, faktor lingkungan, dan pembentukan dari keluarga, ada anak pria satu-satunya, kakak-kakaknya wanita. Maka gaya yang terbentuk bisa terbentuk karakter pria yang agak kewanitaan, atau wanita lebih bergaya pria, hal itu tergantung cara didik,” kata Wakil Wali Kota Depok Idris Abdul Somad di ruang kerjanya, Rabu, 7 Mei 2014.

Idris menambahkan, hal itu hanya salah satu faktor kecenderungan mengapa anak berpotensi memiliki kelainan seksual.

“Artinya, saya melihat kecenderungan bisa dari faktor itu,” kata pria yang menjabat sebagai petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Depok ini.

Kedua, yakni faktor media yang banyak menonjolkan perilaku atau artis dengan gaya banci dapat menginternalisasi pikiran anak ataupun remaja. Karena itu, Idris mendorong agar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) lebih melakukan pembatasan.

“Media sangat berperan, cowok lemah lembut atau banci banyak ditampilkan, itu pengaruh. Makanya KPI berperan lakukan pembatasan,” ungkapnya.

Idris mengaku membaca survei di Amerika Serikat bahwa libido seks anak lebih menguat ketika tak ada kedekatan dengan sang ayah. Ketika tak diarahkan, tak dilampiaskan, kecenderungan anak yang jauh berkomunikasi dengan ayah, memiliki libido seks lebih tinggi.

“Peran ayah sangat besar. Semakin dekat dengan ayah, semakin memengaruhi psikologis anak,” ungkapnya. (tty)